Saturday, July 6, 2013

Southrace at The Dawn of Earth: First Contact

Berikut ini adalah perbaikan untuk prolog. Indonesia tidak lagi dibagi menjadi dua, sebab terlalu kontraversial dan agak 'panas'.
Setelah berkonsultasi dengan temanku yang pandangan politiknya cukup kuat, aku memutuskan untuk mengubah prolog dari Southrace at The Dawn of Earth, dengan memberikan alasan yang masuk akal untuk memindahkan pusat pemerintahan Indonesia ke Kendari.

Perbaikan Prolog

17 Agustus 2021, hari ini adalah hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-76. Aku bangun dari kasurku, menjalankan televisi, dan membuka siaran berita. Tampaknya isteriku sudah bangun duluan, dia tidak ada di kamar. Aku pun melihat Eden (9 tahun) yang sedang tertidur di samping kananku, kalau tak salah dia harus bangun sebelum pukul tujuh, karena upacara Hari Kemerdekaan NKRI di sekolahnya dimulai pukul delapan.
“Biarkan dia tidur dulu saja ya” gumamku.
Seketika kudengar cuplikan siaran berita yang tadi kubuka, “Sebuah meteor baru saja jatuh di DKI Jakarta pukul 04:55 WIB pagi ini, yang seketika saja mengubah ibukota kita menjadi kawah yang besar. Korban jiwa diperkirakan mencapai sepuluh juta jiwa dan kerugiaan ditaksir mencapai puluhan milyar rupiah (semenjak 2019, mata uang Indonesia telah resmi didenominasi, maka puluhan milyar rupiah di sini setara puluhan triliun rupiah). Menurut Menteri Kebudayaan, Dr. Hadjiman Salim, yang kebetulan selamat dari bencana tersebut, DKI Jakarta sudah tidak bisa dijadikan ibukota lagi, setidaknya sampai berhasil direstorasi. Untungnya, presiden Herman Toro dan wapres Johan Tanri sedang melakukan kunjungan di Kendari, Sulawesi Tenggara pada saat kejadian, sehingga terhindar dari malapetaka tersebut. Tampak belum selesai dengan itu, sebuah meteor lainnya mendarat di Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang, Bekasi, dan Kendari. Kerusakan yang dialami kota-kota tersebut tidak separah yang dialami Jakarta, dengan Kendari yang sama sekali tidak mengalami kerusakan selain gelombang tinggi dan banjir di daerah pinggiran, sebab pecahan meteor tersebut masuk di Teluk Kendari. Diduga, meteor tersebut pecah sewaktu memasuki atmosfer bumi.” Kata reporter di berita tersebut.
“Hah?” seruku kaget, “Jadi ini penyebab gempa tadi subuh?”
Subuh tadi memang aku ada merasakan gempa kecil, tapi tak kupedulikan karena tampaknya tidak bakal buat rumah ini runtuh, lagipula, aku masih ngantuk saat itu. Namun melihat berita ini, aku tercengang. Padahal pembacaan sensor astronomiku kemarin tidak menunjukkan adanya meteor atau apa pun yang mengarah ke bumi. Ah, mungkin saja sensor astronomiku rusak. Aku akan menghubungi Aucafidia untuk memperbaikinya.
Aku melihat ke Eden, “Untung kita tak kenapa-kenapa ya”. Aku pun berjalan menuju kasur bayi di sisi kanan kasurku. Hayden (3 tahun) sedang duduk meminum susu di balik pagar kasur bayi itu. Tampaknya jelas isteriku sudah bangun duluan, hahaha.
Aku pun keluar kamar mau mengambil air. Sekarang pukul 05:24, sekalian juga aku membangunkan anak-anakku untuk ke sekolah.
“Papa, sudah bangun ya?” suara lembut isteriku (Helena Irawan, 46 tahun),tiba-tiba saja memanggilku yang sedang meneguk air segar.
“Iya ma, mama bangun duluan lagi ya?” kataku kepadanya.
“Hahaha, jelas toh. Mama khan mau menyiapkan sarapan dulu” balasnya dengan halus.
Aku memeluknya dengan lembut, “Mama sudah lihat berita tadi ndak? Jakarta dan beberapa kota lain hancur dijatuhi meteor. Untung Kendari tidak rusak banyak, jadi kita aman-aman saja. Papa tidak tahu mau gimana lagi kalau ada apa-apa sama keluarga kita”
“Ah, masa sih?” katanya tidak percaya.
“Memang kapan papa pernah bohong sama mama?” balasku seraya menatap matanya.
“Mama percaya papa kok, mama juga tak ingin terjadi apa-apa dengan keluarga kita” katanya lembut seraya kembali ke pelukanku.
“Mama kembali ke dapur dulu untuk menyiapkan nasinya, tampaknya sudah matang, papa bangunkan anak-anak ya” katanya seraya melepas pelukanku dan menatapku lembut.
“Oke ma” kataku seraya menuju kamar David dan Peter.
Aku pun memasuki kamar David (15 tahun) dan Peter (11 tahun), mereka masih tidur. Peter okelah, karena dia satu sekolah dengan Eden, upacaranya dimulai pukul delapan nanti. Biar dibangunkan pukul tujuh pun tak mengapa. Tapi sekolah David upacaranya dimulai pukul setengah tujuh.
“David, ayo bangun, kau ada upacara untuk dihadiri sejam lagi” kataku seraya menggoyangkan badan David.
“Nggh? Ayam dimakan bukan dibuang..” igaunya seraya berputar dan memeluk Peter seperti bantalnya.
“Haduh ini David,” kataku ketus, “Bangun, siap-siap sana” seraya menggoyangkan badan David lebih keras.
“Ya? Kenapa sih? Masih ngantuk ini”
“Kau mau upacara sejam lagi loh”
“Hah? Sekarang jam berapa?” katanya yang mulai tersadar.
“Pukul 05:32, cepat bangun sana” balasku.
David terdiam sesaat, tampaknya berusaha mengumpulkan kesadarannya.
“Jangan melamun saja, ayo siap-siap sana. Mama sudah menyiapkan makanan” kataku memecah keheningan.
“Iya pa,” balasnya seraya bangun dan menuju kamar mandi di kamarnya.
Akhir kata aku, David dan isteriku sarapan bersama di ruang makan. Selesai makan aku pun mengantar David ke sekolahnya, SMA 1 Kendari, sekalian pergi ke tempat praktekku (aku dokter). Nanti Peter dan Eden bisa diantar oleh isteriku.
Hari ini cukup sepi, dan berita tadi pagi jadi berita hangat di koran.
Tiba-tiba Dr. Sylafen si ahli tulang, yang praktek di samping ruanganku (ini tempat praktek bersama) masuk, “Permisi, South, ada yang mau bertemu denganmu” katanya.
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Sa tak tahu sih, tapi dia tampak mencurigakan, dia pake kacamata hitam dan topi. Rambutnya putih seperti orang tua, tapi kulitnya halus. Badannya tegap dan agak tinggi, bule mungkin” Kata Dr. Sylafen berusaha mendeskripsikan orang yang mau bertemu denganku.
“Aucafidia!” gumamku tiba-tiba.
“Maaf, anda bilang apa?” kata Dr. Sylafen bingung.
“Anu, itu nama orang itu, itu kenalanku, suruh saja dia masuk” balasku.
“Baiklah,” balasnya seraya memanggil Aucafidia masuk.
Ketika Aucafidia masuk ruanganku pintu pun kututup dan kukunci.
“Kenapa kau datang tanpa menyemir rambutmu dulu?” seruku ke Aucafidia.
“Maaf, tapi aku terburu-buru dan tak sempat menyemir rambutku, apa di sini aman?” tanyanya.
“Ya, aman, ruangan ini kedap suara, ada apa?” balasku dengan penasaran.
“Hoi bin olto nitalia das setra pemiscrct jakhse vifenaris oniciher?” tanyanya tiba-tiba (Southlish, “Kau tahu tentang meteor yang jatuh tadi pagi?”).
“Da, Ich a. Tartos? (Ya, kenapa?)” tanyaku penasaran. Dia bertanya pake southlish, artinya ini hal penting.
“Das popor nitosus earth evitc dohatio huxupogilis (itu datang ke dekat bumi dengan kecepatan warp)” katanya dengan nada serius.
“Hah? Jadi itu pesawat?” tanyaku dengan kaget.
“Untuk yang itu aku belum bisa konfirmasi. Para peneliti kami sudah memastikan bahwa yang jatuh itu sejenis bom fusi nuklir. Tapi tampaknya yang jatuh di Kendari lebih kecil, dan kami tak menemukan ada tanda-tanda reaksi fusi dari teluk Kendari. Untuk sekarang kami asumsikan yang jatuh di Kendari rusak dan gagal meledak” jawabnya.
“Sudah cek tanda warp-nya? Asal bom itu darimana?”
“Tidak, tampaknya jalur warp mereka menyinggung medan gravitasi bulan, jadi jejaknya tersamarkan. Selain itu, kami mendeteksi tanda warp itu dari darat, pada saat kejadian, satelit kami sedang di sisi lain bumi”
“Apa kalian tidak bisa menggunakan satelit lain?”
“Kami bisa saja mengambil data yang direkam oleh satelit bumi lainnya, tapi teknologi bumi masih sangat primitif, kami tak bisa menggunakannya untuk mendeteksi tanda warp-nya”
“Betul juga,” kataku seraya merenung.
“Siapapun yang mengirimkan bom itu ke bumi, tak mengetahui keberadaan kita di sini. Sebaiknya tetap begitu, sampai kita bisa mengetahui siapa yang mengirimkan bom itu. Sebaiknya kau berhati-hatilah”, dia memperingatiku.
“Baiklah, akan kupastikan sensor-sensorku di kota ini tetap aktif” balasku.
“Good, sebaiknya aku kembali ke Aucantica”
“Ya, tetap kabari aku tentang hal ini ya” balasku.
“Pasti” katanya seraya meninggalkan ruanganku.
Bom fusi nuklir ya. Biar bagaimana pun, pasti pemerintah tahu kalau ini bom nuklir, tapi dilihat dari berita-berita yang beredar, tampaknya pemerintah berusaha menyembunyikannya. Aku harus mengawasi teluk Kendari. Sebaiknya kuperbanyak sensor di sekitar Kendari Beach.

*****

Tahun baru 2022, Kota Kendari dipilih sebagai Ibukota NKRI sementara bersamaan dengan pergantian tahun. “Tahun yang baru, Ibukota yang baru” kata Presiden Herman Toro, yang juga adalah orang Kendari. Kami pun melakukan pesta di Kendari Beach.
Pestanya cukup meriah, hingga tiba-tiba PDA-ku bergetar.
Aku pun membuka PDA-ku dan menerima pesan dari sensor di utara Teluk Kendari, "Anomali Terdektesi: Tanda reaksi materi-antimateri pada kedalaman 254.5 meter".
"Apa?" aku kaget, tercengang.
"Ada apa pak South?" tiba-tiba seseorang memanggilku.
"Ah, pak Presiden, darimana bapak tahu namaku?" aku pun balas menyapa, yang ternyata adalah Herman Toro, Presiden NKRI.
"Hahaha. Jelas saja saya tahu nama anda, itu tertera di name tag anda" katanya seraya menunjuk name tag yang kukenakan di dada kiri jasku.
"Astaga, saya lupa, hahaha" tawaku tapi berusaha untuk tetap sopan.
"Jadi, berita apa yang kau dapat? Seperti yang dikatakan oleh Aucafidia khan?" tanyanya dengan nada agak serius.
"Hah? Anda kenal Aucafidia?" aku kaget, dia kenal dengan Aucafidia?
"Hahaha, jelas saja, Aucafidia itu sepupuku. Apa dia belum memberitahumu?" katanya sambil tertawa ringan.
Ternyata Aucafidia punya sepupu toh, aku tak pernah tahu itu.
"Dan tampaknya si John, papa itu, punya naming sense yang buruk ya, hahaha" candanya.
"Hahaha, memang sih, aku juga merasa hal yang sama. Soalnya nama South itu khan aneh sekali di Indonesia" kami pun tertawa.
"Soal yang tadi, apa yang kau temukan?" tanyanya dengan nada serius lagi.
"Ah, itu, sensor-sensorku di sekitar utara Teluk Kendari, menunjukkan tanda-tanda reaksi materi-antimateri. Setahuku hal seperti itu mustahil ada di Teluk Kendari tanpa sepengetahuan kita. Untuk dugaan Aucafidia, nanti aku akan mengirimkan beberapa robot penjelajah ke dasar Teluk Kendari untuk melakukan pencarian lebih lanjut" jawabku.
"Hmm, begitu ya, sebaiknya saya melaporkan hal ini ke Aucafidia. Dan, kau tahu saya memilih Kendari sebagai Ibukota bukan tanpa suatu alasan kan?"
"Ya, aku mengerti. Aku akan memberikan laporan kepada anda begitu hasil penjelajahannya keluar." balasku.

Wednesday, July 3, 2013

Rencana untuk Blog ini

Rencana untuk Blog ini, sudah disiapkan, terutama soal ide Southrace at The Dawn of Earth.
Belakangan memang blog ini sangat jarang ditulis, terutama karena sayanya selaku penulis malas mengisi entri di blog ini.
Jadi saya memutuskan untuk mempublish beberapa karya yang lagi dikerjakan prematurely, jadi sambil dikerja sambil dipublish.
Kuharap dengan cara ini blog ini bisa lebih sering diisi.
Itu semua barulah rencana, jadi tidaknya rencana itu, tidak bisa kujanjikan.
Setidaknya, kita harus buat awal yang baru.

Satu hal lagi, saya sengaja membuat tampilan minimalis untuk blog ini, dengan memperhatikan kecepatan blog ini terbuka.
Sengaja kuberikan latar hitam untuk blog entry-nya, agar lebih mudah terbaca.

Sunday, May 26, 2013

Southrace at The Dawn of Earth: First Contact

CHAPTER II : GAGAL MENGALAHKAN SUPERMAN, SANDERA ANAKNYA!

Pada suatu malam yang tenang di perumahan kecil belakang Ruko, adalah daerah rawa-rawa. Aku mendarat di atas salah satu menara tua di samping rawa, memandang rawa yang sunyi dan tenang pada malam hari.
Aku berencana berendam di rawa-rawa itu (airnya cukup bersih) dengan anak-anakku, ketika tiba-tiba aku melihat riak air di rawa.
Tiba-tiba muncullah kapal selam dari dasar rawa (yang sangat aneh bagiku, karena rawa itu tak terhubung ke laut...). Itu adalah kapal selam orang itu! Aku lalu bersembunyi di balik menara itu, sambil terus mengawasi mereka. Mereka keluar dari kapal selam. Entah darimana, anak-anakku muncul,
David (16 tahun),
Peter (12 tahun),
Eden (10 tahun),
Hayden (4 tahun).
Mereka kaget melihat kapal selam itu. Hayden dan Eden lari, Eden berhasil kabur, namun Hayden ditangkap oleh bawahan penjahat itu! Peter dan David membantuku melawan orang itu dan bawahannya. Terjadilah perkelahian sengit di menara itu. Sepertinya para bawahan orang itu kuat sekali, aku memukul mereka, namun mereka tidak merasa kesakitan atau apa. Akhirnya aku dan Peter berhasil mengalahkan mereka. Tapi, tunggu, di mana David??? Aku lalu menyelamatkan Hayden dan memerintahkan Peter membawa Hayden pulang ke rumah dan beritahukan Istriku dan Eden untuk kabur lewat jalan rahasia. Lalu aku mencari David, anak laki-laki kesayanganku.
Di tepi rawa, David diikat oleh tali -yang tampaknya sangat kuat, karena David yang mewarisi kekuatanku tak bisa memutuskannya- dan orang itu di sampingnya! Orang itu berkata, kalau aku mau dibebaskan, aku harus membunuh David....
Aku pun terpaku, dan sudah terkepung oleh bawahannya (jumlahnya lebih banyak dari sebelumnya dan aku juga sudah lelah). Orang itu lalu berkata,
"Begini saja, pilih mana? Saya yang bunuh anakmu atau kau yang bunuh?"
Deg! Aku terkejut, kaget, terdiam seribu bahasa....
"Biarkan aku yang lakukan itu!", ucapku spontan.
Air mataku menetes jatuh. Kupandangi mata David yang memandangku penuh harap, nampak matanya berkaca-kaca...
Penjahat itu lalu melepas ikatan David dan menyuruhku bertarung dengannya, sambil terkekeh sinis.
Aku lalu bertarung dengan David, anak kesayanganku. Cakar khas bangsa Southrace-ku keluar dan aku pun menusuk dada kanan David. Tampak David meraung kesakitan. Rasa sedihku sudah tak tertahankan, dan amarahku kepada orang itu pun meluap-luap. Aku lalu membalikkan badan, aku pun memberi tanda ke David untuk mulai menyerang mereka. Aku dan David, saling membelakangi, entah darimana kekuatan terasa menjalar di tubuh kami, kami melawan mereka hingga hampir semua dari mereka tumbang.
Orang itu dengan seringainya terkekeh puas melihat pemandangan ini.
"Baiklah, kali ini kalian bebas. Berikutnya saya akan kembali dan membunuh kalian berdua! Kalian telah menggagalkan rencanaku sebelumnya dan rencana seranganku sekarang, plus kalian telah merobohkan para pasukanku yang harusnya untuk melancarkan serangan ini! Sebaiknya kalian bersiap, sebab berikutnya saya tak akan main-main lagi dengan kalian!"
Aku dan David terpaku melihat kapal selam itu menghilang di rawa-rawa.

 

Friday, May 3, 2013


Southrace at The Dawn of Earth: First Contact

CHAPTER I : A MAN THAT CAME FROM THE DEPTH OF SEA

Sehari setelah Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah kapal selam tiba-tiba muncul di tengah-tengah teluk Kendari. Jelas saja ini menjadi pemandangan yang menarik, karena mereka (di Kendari) jarang bisa melihat kapal selam. Aku yang dari pertama melihat kapal itu merasa khawatir, mengamati kapal selam itu dari pinggiran Kendari Beach. Tiba-tiba saja ada orang yang terbang keluar dari kapal selam itu (ha?). Jelas saja para orang awam ini mengira hal ini sebagai pertunjukan dan bertepuk tangan meriah. Aku semakin resah, terutama aku tahu orang ini betul-betul melayang di udara, tanpa tali, tak ada pesawat di sekitarnya, orang itu melayang di atas teluk ini dengan kemampuan sendiri! Orang itu kemudian melakukan suatu gerakan dan tiba-tiba saja sebuah meteor jatuh ke laut, beberapa kilometer di arah timur kota Kendari. Meteor itu ternyata adalah alien berbentuk laba-laba seukuran pulau! Dia lalu mulai menggali di dasar laut. Lalu dengan telepatiku (ya, aku telepath) aku mencoba mencari tahu apa yang dia sedang lakukan. Tampak jelas ketika aku melihat ke pikirannya, dia akan masuk ke tanah dan menggerus pulau-pulau kecil di dunia dan menumpuknya di tengah-tengah Indonesia menjadi pulau pasir raksasa agar penduduk dari planetnya bisa tinggal di Bumi.

Hey! Itu tak bisa dibiarkan! Itu artinya invansi ke bumi! Aku harus menghentikannya! Aku lalu reflek terbang (ya, terbang! Aku seperti Superman di sini, dan aku bisa psychokinesis) memerintahkan orang-orang yang berkerumun di Kendari Beach untuk mengungsi secepatnya.

“Ini saat darurat! Cepat selamatkan diri kalian!” teriakku kepada mereka.
Mereka pun panik dan akhirnya kerumunan pun terbongkar. Di kondisi yang kacau itu, aku menuju tempat alien itu menggerus di dasar laut ketika aku dipanggil oleh orang itu,

"Hey kau! Apa yang akan kau lakukan?"

"Aku akan menghentikan alien itu!" balasku spontan.

"Kau tak boleh melakukannya!"

"Memang kenapa? Alien itu mau menginvansi Bumi dengan menyediakan basis awal bagi bangsanya!"

"Memang itu tujuannya, bodoh! Berani mengganggunya, kau akan berhadapan denganku!"

Aku tak mempedulikan perkataan orang itu (yang kuanggap sudah gila) dan terus menuju tempat alien itu.
Tampaknya orang itu memang marah.

Betul saja, orang itu melemparkan tiga buah bom ke arahku! Aku mencoba menghindar ketika aku menyadari bahwa itu bom nuklir (tertulis Nuke di lapisan luarnya). Aku pun mencoba menangkap bom-bom itu sebelum menyentuh tanah! Aku kemudian melempar bom-bom yang sudah kutangkap itu ke arah alien itu. Dan....

*DHUAAAAARRRRRRRRRRR*

Bom itu meledak dengan awan cendawan yang khas (tampaknya bom dengan daya yang lumayan kecil, karena ukurannya dan daya ledaknya tak sekuat ekspektasiku).

Lalu dari kapal selam itu terbanglah juga (terbang lagi???) dua orang bawahan orang itu ke arahku. Terjadilah peperangan udara yang sengit antara aku dan orang itu (beserta bawahannya). Bawahan orang itu mencoba melempariku mobil-mobil dari jalan ke arahku (mereka bisa psychokinesis juga!!!). Aku menepisnya dan balas menyerang orang itu. Kami berperang sengit hingga di antara gedung-gedung dan para bawahan itu terus-terus melempariku benda-benda dari permukaan. Aku berusaha menepis benda-benda yang dilempar mereka dan berusaha agar tak kena penduduk sipil. Beberapa kali juga kami bertarung jarak dekat. Pukulan mereka cukup kuat, relatif terhadapku yang cukup kuat ini. Akhirnya mereka menyerah dan kembali ke kapal selam mereka, kembali menyelam ke laut dalam.

Hari sudah malam, aku berpikir untuk terbang ke langit, jauh ke atas awan, mencoba untuk menyegarkan diri dengan angin malam. Namun aku hampir jatuh dan mendarat di patung presiden di puncak Istana Negara Republik Komunis Persatuan Indonesia Utara. Aku kelelahan, terbang ternyata menguras tenaga.

Aku berpikir untuk pulang, maka pulanglah aku ke rumahku.

Southrace at The Dawn of Earth: First Contact


Setelah berpikir agak lama, aku memutuskan untuk mulai memposting cerita yang kutulis (Southrace at The Dawn of Earth: First Contact) di blog ini. Saat ini sudah mencapai chapter 7, namun akan kuposting per-chapter...

PROLOG
17 Agustus 2022, hari ini adalah hari peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-77. Karena krisis ekonomi, sosial, budaya, dan unsur SARA di DKI Jakarta pada awal tahun 2020an, dan revolusi komunis di Indonesia dalam rangka melawan kapitalisme yang merajalela di Indonesia, Indonesia terbagi menjadi dua bagian. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mencakup pulau Jawa, Sulawesi Selatan, dan Bali, beribukota di DKI Jakarta , dan Republik Komunis Persatuan Indonesia Utara (terbentuk pada 21 Juli 2021) yang mencakup pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, sisa pulau Sulawesi (selain provinsi Sulawesi Selatan), dan Irian Jaya, yang beribukota di Kendari (dari namanya jelas memegang paham Komunisme). Namun karena kedua fragmen negara ini masih memakai nama Indonesia, RKPIU tetap merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sehari setelah terbentuknya negara baru ini (tanggal 22 Juli 2021), Herman Theodor terpilih sebagai presiden pertama RKPIU, dengan Yakob Tanri sebagai wakilnya. Mereka akan menjabat untuk empat tahun berikutnya. Sistem pemerintahan negara baru ini adalah Demokratis Theorasi, di mana pemerintahan dijalankan oleh Dewan Pemerintahan di bawah pengawasan presiden dan wakil presiden. Undang-undang dasar (UUD) yang digunakan oleh RKPIU adalah UUD 2021 yang merupakan perombakan UUD 1945 yang disesuaikan dengan ide Komunis Henokhian.
Negara yang masih berusia setahun lebih ini masih berusaha mempertahankan eksistensinya dan memperoleh pengakuan dari dunia luar. Karena adanya pergerakan Komunis (walau bukan oleh partai PKI, namun oleh Partai Nasional Sosialis [NaSi] Indonesia) di RKPIU, negara muda ini putus hubungan dengan Malaysia, dan sekarang menjalin hubungan kerjasama dengan RRC.
Pada 14 Desember 2021, NKRI melakukan penyerangan terhadap RKPIU dan berhasil menguasai beberapa wilayah yang telah diklaim oleh RKPIU, seperti Sumatera Selatan (23 Desember 2021), Kalimantan Barat (31 Desember 2021) dan Tengah (2 Februari 2022), Kepulauan Maluku (14 Februari 2022) dan Ambon (3 Maret 2022).
Pada 4 April 2022, Presiden RKPIU Herman Theodor, memerintahkan setiap provinsi yang dikuasai oleh RKPIU untuk mengadakan pengambilan suara terhadap penduduknya dalam rangka penentuan provinsi anggota. Herman juga mengirim permintaan untuk melakukan pengambilan suara kepada seluruh provinsi di NKRI beserta wilayah sengketa untuk melakukan pengambilan suara, untuk membagi wilayah Indonesia menjadi dua secara adil berdasarkan pilihan rakyat.
Pada 22 Desember 2022, hasil pengambilan suara dari NKRI dan RKPIU telah keluar. Berdasarkan hasil pengambilan suara itu, wilayah NKRI mencakup Pulau Jawa, Kepulauan Sunda Kecil, Kepulauan Ambon, Papua Barat, Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat. Sisanya berada di naungan RKPIU.
Persetujuan akhir pembagian wilayah antara NKRI dan RKPIU pun ditandatangani pada 28 Desember 2022, yang juga disebut sebagai hari dimana RKPIU diakui oleh dunia internasional.
Peperangan masih saja terjadi di perbatasan NKRI dan RKPIU, namun itu tak akan lama lagi...

Saturday, November 10, 2012

Southrace at The Dawn of Earth
Penulis: Hendrik Lie

Bagi anda sekalian yang gemar membaca cerita fiksi ilmiah, adalah seorang penulis lepas yang menulis sebuah cerita fiksi.
Saat ini, sang penulis, Hendrik, mengkategorikan ceritanya sebagai Novel. Novel ini sekarang sudah mencapai chapter 5, dan masih akan dilanjut lagi penulisannya. Walau novel ini "agak" tajam (menceritakan Indonesia sudah terpecah), sebagai pembaca yang baik kita harus menghormati karya ini dan tidak memandang sebelah mata. Anda bisa memperoleh novel ini di sini (via 4shared) atau di sini (google drive).

Sinopsis Cerita

Ceritanya dimulai sehari setelah Hari Ulang Tahun Negara Republik Indonesia yang ke-77, tepatnya tanggal 18 Agustus 2022, yang dirayakan di ibukota negara muda bekas NKRI, kota Kendari dari Republik Komunis Persatuan Indonesia Utara. Tiba-tiba saja sebuah kapal selam muncul di tengah-tengah teluk Kendari, menarik perhatian banyak orang yang mengamati dari Kendari Beach. Dari kapal selam itu keluarlah seseorang yang kemudian terbang ke atas langit Kendari, memanggil sebuah meteor yang jatuh di laut lepas Kendari. Ternyata meteor itu adalah alien berukuran laba-laba seukuran pulau, yang berencana menguasai bumi. Tiba-tiba sang tokoh utama terbang menuju alien itu dan berusaha menghentikan alien itu, ketika orang dari kapal selam (di chapter-chapter berikutnya mengaku bernama Harry) marah dan melempari sang tokoh utama tiga buah bom, yang kemudian sang tokoh utama melempar lagi bom itu ke arah alien. Alien itu pun hancur. Sang penjahat kabur dengan kapal selamnya dan kemudian mulai menyerang keluarga sang tokoh utama dalam rangka membalas dendam.

Belakangan diketahui bahwa sang tokoh utama itu adalah setengah manusia dan setengah alien (alien yang berbeda dengan yang mendarat di laut lepas Kendari).

Maka berlangsunglah petualangan sang tokoh utama dalam melindungi keluarganya dan Bumi dari serangan bawahan Harry dan dari invansi alien.

Friday, September 28, 2012



Di Ketinggian Himalaya, Kakak-Beradik Berbagi Istri

Saat Tashi Sangmo berusia 17 tahun, ia menikahi tetangganya yang berusia 14 tahun di sebuah desa terpencil di Nepal. Dan sebagai bagian dari perjanjian, ia juga setuju untuk menikahi adik suaminya itu.

Pada zaman dahulu, anak laki-laki dari setiap keluarga di kawasan Dolpa Atas akan bersamaan menikahi satu perempuan, namun praktik poliandri ini kini sudah mulai menghilang seiring dengan modernisasi zaman.

"Semuanya akan lebih mudah seperti ini karena kami bersama-sama dalam satu keluarga. Tidak terbagi antara istri-istri yang berbeda, dan saya yang memegang kendali," kata Sangmo, yang menggunakan dialek Tibet dan berbicara melalui seorang penerjemah. "Dua bersaudara mencari penghasilan dan sayalah yang menentukan bagaimana uang itu akan digunakan."

Saat Sangmo menikahi Mingmar Lama 14 tahun lalu, adik laki-laki Mingmar, Pasang yang waktu itu berusia 11 tahun, akan terlibat juga dalam pernikahan ini. Praktik poliandri di beberapa desa terisolasi di Nepal sudah berlangsung ratusan tahun. Kini mereka bertiga memiliki tiga anak laki-laki usia delapan, enam, dan empat.

"Saya ingin berbagi ikatan ini dengan adik laki-laki saya karena hidup akan menjadi lebih mudah buat kami berdua," kata Pasang, 25, berbicara di rumah keluarga mereka di desa Simen, 4000 mdpl dan sekitar lima hari berjalan kaki dari kota terdekat.

Orang-orang Dolpa atas adalah bagian dari karavan yang melalui rute antara Nepal dan Tibet. Mereka masih berdagang di rute tersebut, termasuk menuntun yak yang membawa garam dari Tibet dan beras dari dataran selatan Terai.
 


Di ketinggian desa seperti itu, tanah subur sangat sedikit jumlahnya dan peternakan pun berukuran kecil.

Namun poliandri mencegah keluarga-keluarga membagi aset, dan persediaan makanan pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk lokal.

Pernikahan biasanya dilakukan melalui perjodohan, keluarga pun memilih istri buat anak laki-laki tertua mereka dan memberi kesempatan adik laki-laki untuk menikahi kakak iparnya kemudian.

Dalam beberapa kasus, para istri juga ikut membantu membesarkan calon suami mereka yang masih muda, dan memasuki hubungan seksual dengan mereka setelah cukup dewasa.

Tak seperti pria-pria lain dalam pernikahan Hindu Nepal yang konservatif, para suami di pernikahan poliandri biasanya membantu tugas-tugas domestik seperti membantu memasak dan merawat anak, sementara para istri mengurusi keuangan.

Poliandri juga menjadi sebuah bentuk pengendalian kelahiran karena ada batas maksimal kehamilan perempuan, terlepas dari berapa jumlah suami yang mereka miliki.

Rumah tangga poliandri juga biasanya tak mengenali suami mana yang menjadi orangtua biologis, anak-anak sama-sama memanggil ayah dan paman mereka sebagai "bapak".

Poliandri menghancurkan banyak tabu seksual barat dan sering membuat heran orang luar, namun penduduk lokal melihat peristiwa ini sebagai sesuatu yang biasa dan menguntungkan.

Shitar Dorje, 30, menikahi suaminya yang berusia 37 tahun Karma, sepuluh tahun lalu.

Adik laki-laki Karma, Pema, masuk dalam pernihan itu beberapa tahun kemudian setelah menyelesaikan sekolah filosofi Buddha.

"Jika kami berada di satu rumah dalam waktu yang sama, maka kakak laki-laki saya yang tidur dengan istri saya," kata Pema, 30.

"Dalam hal ini, tidak ada rasa cemburu. Saya tidak merasa cemburu bahwa saat kakak saya ada di rumah, maka istri kami akan bersama dia. Jika saya cemburu, maka saya akan pergi dan menikahi orang lain," kata Pema.

Hidup di Dolpa Atas sederhana, namun berat.

Sanitasi jarang, dan pelayanan kesehatan modern hampir tidak ada. Setiap hari kaum perempuan harus bekerja memecahkan batu di bukit yang tandus atau memanen tanaman di bawah matahari terik.

Poliandri memungkinkan terjadinya pembagian pekerjaan antara dua saudara laki-laki, satu untuk mengurus hewan ternak, satu untuk membantu istri di ladang, dan satu untuk bergabung dalam karavan dagang.

Banyak yang melihat praktik ini sebagai keberlangsungan hidup, ada faktor keamanan buat para perempuan sehingga ada yang akan menjaga mereka setelah satu suami meninggal.

Menurut badan amal asal Belanda SNV yang memiliki jaringan di daerah tersebut, usia harapan hidup di sana hanya 48 untuk pria dan 46 untuk wanita.

Thajom Gurung, 60, dari desa terpencil Saldang, kehilangan suaminya Choldung akibat kanker 30 tahun lalu. Namun ia menikahi dua kakak laki-laki Thajom dan kini tinggal dengan satu-satunya suami yang masih hidup, Choyocap, 67.

"Saat kami semua tinggal bersama, kami bergantian tidur dengan istri saya -- tidak ada yang khawatir soal itu," kata Choyocap.

Sampai baru-baru ini, isolasi di Dolpa Atas mempertahankan gaya hidup yang sudah menghilang di beberapa tempat lain namun turisme kini menyoroti kawasan yang sudah sempat terlupakan ini.

Di atap-atap rumah batu, di tempat yang dulunya berkibar bendera doa, kini bermunculan parabola satelit. Mereka pun melihat kilasan dari dunia modern dengan imaji romansa yang sangat kontras dengan kehidupan mereka.

Menurut SNV, meski 80 persen rumah tangga melakukan praktik poliandri satu generasi lalu, jumlahnya kini turun hanya 1 banding 5 atau 20 persen, dan akan hilang dalam dua generasi.

Untuk sementara, praktik ini kini terjaga oleh generasi yang pernikahannya adalah tentang pragmatisme dan bertahan hidup di salah satu lingkungan terkeras di dunia.

"Poliandri adalah tentang menjaga keluarga tetap bersatu saat kehidupan menjadi keras," kata Choyocap Gurung. "Dengan banyak saudara laki-laki, rumah tangga menjadi lebih kuat dan anak-anak akan punya kesempatan yang lebih baik di masa depan."

Sumber: Yahoo! News

Creative Commons License
Except where otherwise noted, blog entries of The Finder - The Blog by Hendrik Lie is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 3.0 Unported License.